TO ALL MY BLOG READERS

TERIMA KASIH - شكرا لك - THANK YOU - ありがとうございました - 谢谢您 - Teşekkürler - Mulţumesc - Obrigado

Memaparkan catatan dengan label Buya Masoed Abidin ZAbidin. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Buya Masoed Abidin ZAbidin. Papar semua catatan

Selasa, 14 Disember 2010

Menjalin kerjasama untuk mewujudkan Sumatera Barat Yang Aman Sejahtera











Dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Nagari, adalah satu sistem pemerintahan terendah, dalam struktur masyarakat Minangkabau,

Sifatnya multi dimensi dan multi fungsi.

Nagari mempunyai aspek formal dan informal.

Secara formal dia adalah bahagian yang integral dari pemerintahan nasional.

Secara informal dia adalah unit kesatuan adat dan budaya Minangkabau.

Wilayah Nagari adalah suatu aset dalam pemerintahan Nagari.

Pemerintahan Nagari harus fokus menyiasati babaliak ka Nagari sebagai suatu sistim berpemerintahan.

Melaksanakan kehidupan anak Nagari dalam tatanan adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Analisis Nagari yang paling utama adalah pemerintahan.

Bagaimana Nagari diatur dan dibangun.

Nagari adalah plural, bukan single.

Perbedaan sistem Nagari tersebut membuat setiap Nagari mempunyai dinamika tersendiri.

Dari sisi adatnya, adaik salingka nagari.

Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.

Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Implementasinya di tingkat Kabupaten, ada Perda tentang Pemerintahan Nagari.

Dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat.

Maka, adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari.

Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an.

Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.

Termasuk dalam sosialisasi kebijakan pemerintahan.

Seiring perkembangan zaman dan pemanfaatan teknologi yang maju, seperti musyawarah dalam perwujudan demokrasi, penyediaan peluang bagi semua anak Nagari sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.

Hakikat berpemerintahan Nagari adalah mematuhi Undang-Undang Negara.

Kemudian, dapat menghidupkan jati diri kehidupan beradat dalam tatanan bernagari.

Kebanggaan orang dalam bernagari adalah lahirnya kepeloporan dalam berbagai bidang.

Nagari itu dinamis, senantiasa berubah.

Harus diantisipasi dengan musyawarah anak Nagari.

Dikuatkan oleh seluruh perangkat Nagari, ninik mamak, urang ampek jinih dan Wali Nagari.

Setiap pemekaran Nagari, harus berpedoman kepada pandangan adat dalam Nagari.

Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, sebagai juga ditemui dalam Keputusan Presiden

■Seorang Wali Nagari adalah putra terbaik dan pemuka masyarakat (penghulu)
■Kesetaraan dan keterwakilan

Nilai kesetaraaan dan keterwakilan dari ninik mamak, alim ulama,cadiak pandai dan tokoh – tokoh adat di dalam Nagari, mesti diperhitungkan dengan cermat.

Urusan Nagari adalah urusan bersama seluruh warga masyarakat Nagari.

Bukan hanya urusan yang muda-muda atau urusan yang tua-tua.

Bukan pula urusan ninik mamak semata.

Kerjasama antara generasi, muda dan tua, cerdik dan pandai, sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Nagari.

BAMUS (Badan Musyawarah) Nagari, ditentukan oleh Anak Nagari,

Semestinya menjadi perwujudan dari tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan.

Implementasinya, terlihat dalam pemahaman adat.

Nagari, akan menjadi pelopor di dalam melaksanakan adat Minangkabau

Berfalsafah Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah, dan segera menginplementasikannya.

BAMUS Nagari adalah bentuk perwujudan dari prinsip demokrasi dalam berpemerintahan, semacam badan legislatif tingkat Nagari, untuk melaksanakan pemerintahan Nagari bersama-sama Wali Nagari (Kepala Nagari).

Maka, yang akan duduk di dalam BAMUS Nagari, semestinya hanya beragama Islam.

Tidak dapat disebut Minangkabau jika tidak beragama dengan Islam.

Keberadaan BAMUS menjadi bagian upaya mengembalikan unsur adat ke hakikatnya.

Mengaktualisasikan fungsi dan peran tungku tigo sajarangan, melalui keteladanan, terutama dalam pelaksananan agama dan adat.

Bamus Nagari, menjadi satu bentuk otonomi penuh pada Nagari, untuk mengatur rumah tangga Nagari dengan berpedoman pada peraturan yang ada.

Wali Nagari bersama tokoh masyarakat dalam BAMUS akan menyusun program-program pembangunan Nagari, berbasis kepada adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Keberadaan Kerapatan Adat Nagari haruslah jelas.

KAN di tingkat Nagari adalah badan otonom yang ditetapkan oleh anak Nagari, terikat kaum dalam Nagari, dan memegang asal usul serta kewenangan ulayat Nagari.

Keanggotaan KAN seluruhnya terdiri dari penghulu di Nagari, bagian dari tungku tigo sajarangan, dimuliakan oleh anak Nagari, disebut nan gadang basa batuah.

KAN adalah bagian yang menyatu dengan BAMUS Nagari.

Sewajarnya, tampak nyata hubungan antara adat dan pemerintahan di tingkat Nagari.

Saling topang menopang dan serasi.

Melalui BAMUS Nagari, diharapkan dapat menggerakkan kembali peran dan fungsi ninik mamak, yang selama ini tidak optimal berperan membangun Nagari, yang disebabkan :

Ø Kurangnya figure penghulu dan pemangku adat yang sudah banyak merantau.

Ø Kurangnya pengkaderan ninik mamak untuk memimpin Nagari.

Semestinya, BAMUS Nagari menjadi upaya mambangkik batang tarandam di tengah pesatnya kemajuan bidang teknologi.

Perlu melakukan inventarisasi asset, dan permasalahan Nagari dengan data base Nagari.

Perubahan dalam kehidupan beradat telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda.

Buku tentang Nagari dan adat istiadatnya susah dicari.

Tempat bertanya juga tidak ada.

Banyak ninik mamak yang tidak mengerti adat.

Generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Solusinya dari generasi muda adalah adanya kegiatan nyata...


Kembali ke surau berupa pendidikan untuk pembinaan karakter.

Bila diamati, memang sedang terjadi perubahan ;

■Terjadi krisis identitas pada generasi muda Minagkabau akibat terjadi perubahan dalam nilai – nilai adat Minangkabau tersebut.

■Adat tidak memberi pengaruh yang terlalu banyak terhadap generasi muda Minangkabau.

■Generasi tua tidak lagi memberikan suri teladan lagi kepada generasi muda sehingga menimbulkan sikap apatis generasi muda terhadap adat Minangkabau sendiri.

■Solusi yang ditawarkan adalah kembali ke surau dengan cara membuat suatu pendidikan informal.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat.

Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda.

Banyak tokoh-tokoh besar tanah air dan tokoh Nagari di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan surau sekarang bisa dihidupkan kembali.

Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Upaya dapat dilakukan dalam menyiapkan Nagari berprestasi.

Dimulai dengan program kembali ke surau, dengan cara ;

1.Memberikan pendidikan dan pelatihan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah terutama kepada generasi muda di Nagari.

2.Memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh masyarakat melalui pelatihan dan workshop tentang adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah.

3.Mengevaluasi struktur kelembagaan dalam Nagari

Maka, pada beberapa Nagari yang sudah berdaya, dirasakan perlu adanya dewan pendidikan nagari yang dilengkapi dengan sarana-sarana untuk memajukan anak Nagari diataranya, ada perpustakaan Nagari, sebagai bagian dari menghidupkan kembali banagari dan basurau melalui menghidupkan semangat menggalakkan kembali pendidikan dan pengajaran bagi anak muda.

Pendidikan dapat dilaksanakan di berbagai tempat di lingkungan ba-korong ba-kampuang, ba-jorong atau ba-kaum.

Karena itu, kegiatan surau dikelola oleh alim ulama dan cerdik pandai yang disebut suluah bendang di dalam Nagari.

Alim Ulama di Nagari adalah bagian seutuhnya dari tali tigo sapilin, di tingkat Nagari itu.

Musyawarah Ulama Nagari sebagai suluah bendang adalah benteng agama di Nagari.

Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.

Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.

Konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kristalisasi ajaran hukum alam yang bersumber dari syariat Islam.


Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan dan pengamalan.

Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif.

Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal.

Langkah sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam berbagai sistem kehidupan.

Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari,

Menghidupkan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama,atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, khususnya di tingkat Nagari-nagari dapat diatasi dengan komunikasi dengan generasi muda.

Persoalan perilaku beradat dan beragama yang shahih, harus mendapatkan porsi yang besar,selain persoalan kelembagaan.

Perilaku orang Minang terutama generasi muda sangat mengkhawatirkan.

Selain lemahnya komunikasi, masalah yang muncul di Nagari adalah rapuhnya solidaritas.

Lemahnya semangat gotong royong (ta’awun), yang akan menjadi benteng dari musibah kemiskinan anak nagari.

Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau yang diikat oleh syarak (agama Islam).

Selanjutnya, membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.

Hubungan Kerabat di Minangkabau berlangsung harmonis dan terjaga baik.

Hal tersebut terjadi karena perasaan kekeluargaan dan perasaan malu kalau tidak membina hubungan dengan keluarganya dengan baik.

Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari.

Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya.

Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah,

1.rasa memiliki bersama,

2.kesadaran terhadap hak milik,

3.kesadaran terhadap suatu ikatan,

4.kesediaan untuk pengabdian,

5.dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.

Pembangunan Nagari-nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.

Peningkatan usaha ekonomi masyarakat Nagari dipacu dengan mengkaji potensi Nagari.

Pengalokasian dana hendaknya berimbang.

Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN;

1.dibalut dengan satu sistem pandangan banagari,

2.cinta kepada Nagari yang sama dipunyai,

3.kegiatan pembangunan yang dipersamakan.


Nagari itu disebut orang, sebagai republik-republik kecil.

Nagari-nagari di Minangkabau telah memenuhi unsur-unsur suatu negara.

Unsur-unsur Nagari adalah;

1.suku (masyarakat/rakyat),

2.wilayah (ulayat, batas batas nagari yang terang),

3.penghulu (pemerintahan),

4.kedaulatan (adaik salingka nagari).


Walaupun, struktur Nagari yang sebenarnya itu, sudah tidak ditemukan lagi saat ini,

Pemerintahan Nagari, harus berupaya untuk membangun kembali struktur Nagari ini.


KOTA di Sumatera Barat umumnya berada di dalam Nagari.

Menghidupkan suasana berpemerintahan Nagari yang diikat dalam satu PERDA tentang Pemerintahan Nagari mesti ditindak-lanjuti dengan ;

1.Membangun kembali masyarakat adat Minangkabau, dengan cara meminta pemerintah Nagari mengeluarkan peraturan bagi tiap suku untuk melengkapi kembali perangkat-perangkatnya.

2.Wali Nagari yang akan dipilih memimpin Nagari, sebaiknya adalah yang memiliki kekuasaan sebagai penghulu adat di Nagari tersebut, dengan kualifikasi keilmuan, kejujuran, kesetiaan kepada negara, serta keahlian dalam pemerintahan.

3.Pemerintahan Nagari, melahirkan peraturan Nagari,

4.Ada kewajiban bagi para perantau satu Nagari untuk membantu mengembangkan kampung halamannya melalui sumbangan, bantuan, pemikiran dan lainnya, untuk menjadikan Nagari berdaya dan masyarakat anak Nagari yang makmur, termasuk dalam penguatan perangkat pemerintahan Nagari.

Wabillahit taufieq wal Hidayah

Wassalamu'alaikum.

Buya H. Mas'oed Abidin


Rabu, 13 Oktober 2010

Indahnya bersyukur kepada Allah

by Buya Masoed Abidin Za Jabba







Masalah, ujian dan derita menjadi terasa berat apabila kita tidak pernah tahu bagaimana caranya bersyukur.

Syukur menjadi sebuah keajaiban ditengah luka, perih dan air mata karena syukur wujud cinta kita kepada Allah.

Cara kita mencintai Allah dan cara Allah mencintai kita hadir ketika kita mampu bersyukur.

Bersyukur dengan penuh kecintaan kita kepada Allah sebagaimana kecintaan Allah kepada kita,

sehingga hidup kita menjadi terasa indah dan bahagia.

'Jika engkau bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmatKu padamu.' (QS. Ibrahim :7).

Bagaimana cara yang paling mudah agar kita bisa selalu bersyukur.

1. Berprasangka baik kepada Allah.

2. Berprasangka baik kepada sesama kita dan kepada orang lain.

3. Petiklah hikmah yang tersimpan dibalik sesuatu peristiwa.


Mungkin yang buruk tampak olehmu ada baiknya dibalik itu.

Berprasangka baik (husnudz-dzan) kepada Allah dan kepada sesama,

serta kesediaan memetik hikmah dari satu peristiwa yang terjadi

akan membuat kita merasa aman dan nyaman,

selanjutnya akan membuat hidup kita bahagia.

Amatlah besar manfaat bersyukur nikmat itu.

1. Kita akan sadar bahwa dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan,

semua apa yang kita alami adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Kita akan rela untuk menerima semua ketetapan Allah dengan hati dan dada yang lapang,

Sebab, apapun yang terjadi hakikatnya semata atas idzin Allah belaka.

3. Kita akan mampu menjadi peribadi yan mulia, karena mampu memaafkan kesalahan orang lain yang pernah menyakiti hati
kita.

Alangkah mulia dan indahnya hidup orang orang yang pandai besyukur.

Semoga Allah meredhoi.

Amin

Wassalam

Buya H.Mas'oed Abidin




Isnin, 16 Ogos 2010

Tawakkal cabang termulia dari iman








Tawakkal cabang termulia dari iman. Tawakkal di latih dalam shaum Ramadhan
by Masoed Abidin ZAbidin Jabbar on Sunday, August 15, 2010 at 3:25pm

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ على اللهِحَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

" Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Ia (Allah) akan memberikan rezki (seperti layaknya telah diberikan kepada) seekor burung yang keluar terbang pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang "

(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam iman ada beberapa cabang, dan tawakkal adalah merupakan cabang yang mulia dari cabang-cabang iman yang berkedudukan tinggi dari tingkatan-tingkatan ar rabbaniyyin.

Al Qur'an dan hadits-hadits An Nabawiyah yang mulia telah menerangkan dan menggambarkan dengan berbagai macam bentuk dan idiom. Rasulullah SAW merupakan suri tauladan utama bagi mukminin sebagai seorang hamba yang bertawakkal kepada Rabbnya dengan sebenar-benar tawakkal.

Ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dengan masuknya beberapa hal khurafat yang mencampuraduk tawakkal hingga mengakibatkan kesalah-pahaman yang dalam.

Seebagai seorang muslim yang taat dan beriman kepada Allah SWT tetap berpegang teguh kepada Al Qur'an dan sunnah-sunnah As Sholihah, dengan keduanya kita akan terhindar dari kebinasaan, selamat dari terjerumus ke dalam kesesatan, serta memohon petunjuk dari Allah kepada menghampirkan diri kepada hal yang dicintai dan diridhai-Nya, serta diberi dalam cahaya kehidupan, sebagai firman-Nya dalam Al Qur'an surat As Syura ayat52.

Tawakkal merupakan ibadah hati yang paling utama, dan akhlak iman yang paling mulia, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Al Ghazali : "Ia (tawakkal) memiliki posisi penting dalam agama, dan merupakan maqam yang mulia di kalangan orang-orang yang beriman, bahkan merupakan derajat yang paling tinggi bagi orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibnu Al Qayyim juga mengatakan, bahwa tawakkal adalah merupakan sebagian dari agama dan sebagian yang lain adalah: Inabah sebagaimana yang ditunjukkan dalam Al Qur'an surat Huud ayat 88.

Seorang muslim yang taat dalam mengarungi samudra kehidupannya, sangat memerlukan tawakkal sebagai dayung untuk mengatur bahtera kehidupannya, khususnya dalam perkara "rezeki".

Pemikiran dan hati umat manusia telah disibukkan dengan permasalahan yang satu ini, sehingga seringkali membuat badan menjadi letih, terpuruk dalam khayal dan angan angan, lembur di malam hari dan keletihan di siang hari.

Bahkan ada yang mengorbankan seluruh tenaga dan kehormatannya hanya untuk mendapatkan "sesuap nasi".

Itu semua karena ia memiliki obsesi bahwa rezeki itu berada di tangan seorang makhluk seperti dirinya, bila ia berkehendak ia dapat memberikan dan apabila ia berkehendak ia bisa mencegahnya pula.

Kehidupannya, anak dan istrinya berada di tangannya, dan menurut kaca mata atau pandangan peribadinya dia lah penentu dalam kehidupan dan kematian sebagaimana yang telah dikatakan oleh raja"Namrud" dalam berargumentasi menghadapi Kholilullah Nabi Ibrahim a.s. seperti yang telah diceritakan dalam Al Qur'an.

Di dalam Al Qur'an ada sembilan ayat yang menunjukkan perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk bertawakkal, empat di antaranya diturunkan di Mekah yaitu:

"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkal lah kepada-Nya...."(QS. Huud: 123)

" Dan bertawakkal lah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbih lah dengan memuji-Nya." (QS. Al Furqan: 58)

"Dan bertawakkal lah kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Asy Syu'araa: 17)

"Sebab itu bertawakkal lah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yangnyata." (QS. An Naml: 79)

Sedangkan lima yang lainditurunkan di Madinah, yaitu firman Allah:

"....Kemudian apabila kamu telah membualatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran: 159)

" ...Allah menulissiasat yang mereka atur di malam hari itu, maka beroalinglah kamu dari mereka,dan bertawakkal lah kepada Allah, cukuplah Allah menjadi pelindung." (QS. AnNisaa' : 81)

" Dan jika merekacondong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "(QS. Al Anfaal : 61)

"Dan bertawakkal lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. Al Ahzab: 3)

"Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkal lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebgai pelindung." (QS. Al Ahzab: 48)

Dan juga ada ayat perintah tawakkal untuk Rasulullah SAW yang kesepuluh tetapi dengan sighah yang berbeda, yaitu firman Allah dalam surat Al Muzammil ayat 6.

Dan banyak ayat lain yang memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan perintah tawakkal dari Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Dan banyak perintah Allah kepada seluruh umat untuk bertawakkal kepada-Nya melalui lisan para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.

Sesuatu yang kita maklumi, bahwa segala perintah yang ditujukan (dikhitabkan) kepada Rasulullah sesungguhnya juga tertuju kepada seluruh mukallaf dari umat Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam.

Jadi perintah kepada Rasulullah SAW untuk bertawakkal juga adalah perintah untuk seluruh umat mukminin secara kaaffah.

Al Qur'an telah menegaskan kepada kita bahwa tawakkal merupakan akhlak seluruh rasul, mulai dari nabi Nuh 'alaihis-Salam hingga nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi Wa Sallama.

Salah satu fadhilah tawakkal yang ada dalam Al Qur'an, adalah firman Allah dalam surah Al Maidahayat 23 yang menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan tawakkal sebagai syarat dari iman.

Manakala hilang tawakkal maka hilanglah iman itu.

Di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini, dengan mengamalkan ajaran shaum yang benar, maka sesungguhnya kita dapat mengamalkan sikap tawakkal yang amat berguna di dalam hidup ini. Semoga ...

WallahuA'lam.

Source: http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=1559613513476#!/note.php?note_id=422610476850&id=1491995908&ref=nf

Selasa, 27 Julai 2010

MEMBANGUN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT BERASASKAN ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH (ABS-SBK)



MEMBANGUN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT BERASASKAN ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH (ABS-SBK)

OLEH : H MAS’OED ABIDIN

MUKADIMAH


Visi propinsi Sumatera Barat adalah ingin menjadikan masyarakat Sumatera Barat sejahtera dunia akhirat.

Visi tersebut akan sulit dicapai bila tidak dirumuskan misi yang jelas, tujuan yang akan dicapai, dan sasaran yang hendak diraih, serta cara yang akan ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut secara tepat.

Berhasilnya teknik pencapaian tujuan dimaksud, di antaranya adalah pemahaman masyarakat dan para ninik mamak pemangku adat Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan agama dalam kehidupan sehari-hari.


Foto - Ihsan Buya Masoed Za Jabbar

Ninik mamak sebagai pemimpin masyarakat adat Minangkabau sebagian besar berada di propinsi Sumatera Barat kini, sedang menghadapi perubahan besar, sebagai akibat dari proses globalisasi dan dunia informasi.

Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang, tatanan kehidupan masyarakatnya sangat ideal karena didasari nilai-nilai, norma-norma adat dan agama Islam yang menyeluruh, dalam satu ungkapan adat berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Adat dan syarak di Minangkabau merupakan benteng kehidupan dunia akhirat yang disebutkan dalam petatah adat “kesudahan adat ka balairung, kasudahan syarak ka akhirat. Mamangan ini menyiratkan teguhnya benteng orang Minangkabau yang terkandung di dalam adat dan kokohnya perisai Islam yang di pagar oleh syarak.


PEMAHAMAN ADAT MINANGKABAU TERHADAP NILAI-NILAI ABSSBK.

Nilai-nilai universal dalam masyarakat Minangkabau berkaitan dengan nilai-nilai adat dan syarak dapat dikategorikan ke dalam 6 kelompok, yaitu:

1. nilai-nilai ketuhanan,
2. nilai-nilai kemanusiaan,
3. nilai-nilai persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah, kesatuan dan persatuan,
4. nilai musyawarah dan demokrasi,
5. raso pareso / akhlak / budi pekerti,
6. gotong royong / sosial kemasyarakatan.


Keenam nilai-nilai tersebut sangat dipahami oleh para ninik mamak pemangku adat Minangkabau dan menjadi prilakunya sehari-hari, karena ninik mamak adalah suri teladan bagi anak kemenakannya.
Konsep Pandangan Dunia dan Pandanagan Hidup (PDPH) yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat.

Peristiwa yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau. Tampaknya dahulu itu telah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.

ABS-SBK sekarang menjadi konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako. ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat.

Fenomena terjadi akhir-akhir ini sosok ninik mamak kurang dihargai oleh kemanakannya. Anak kemenakan seolah-olah tidak ambil pusing lagi dengan ninik mamaknya.

Terkadang perkataan ninik mamak sering tidak diacuhkan oleh kemanakannya. Bahkan kehadiran ninik mamak di tengah-tengah anak kemanakannya seolah-olah tidak diperlukan lagi. Telah terjadi krisis kepercayaan terhadap ninik mamak oleh anak kemenakan. Ninik mamak seharusnya memegang kendali dan menentukan dalam pembentukan kepribadian anak kemenakan.

Penyebab terjadinya krisis kepercayaan terhadap ninik mamak saat ini di antaranya adalah karena kurangnya pemahaman Ninik Mamak Pemangku Adat dan juga generasi Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan syarak. Jika masalah ini dibiarkan berlanjut, maka masyarakat Minangkabau yang dikenal masyarakat beradat, hanya akan tinggal kenangan.

Sejak dulu masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi adatnya yang kokoh karena dipagari oleh nilai-nilai agama atau syarak. Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya adalah :

1. NILAI-NILAI KETUHANAN YANG MAHA ESA

Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang meliputi:

a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah, sanda manyanda kaduonyo.
“ menjaga adat yang Islami”


b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.
“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-masing, mesti bekerja dengan professional.”

c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.
“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa, (rencana di tangan manusia keputusan di tangan Allah SWT).”

d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak, sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.
“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”

e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang bakaum kito daulu.
“menghidupkan surau, menjaga ibadah masyarakat, jamaah yang kuat dan memajukan pendidikan agama dengan baik,”

f. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat, salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.
“ menyesali kesalahan, mohon ampunan atas kekhilafan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi ”
g. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.
“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu berjalan seiring”.


NILAI-NILAI ADAT DALAM SYARAK DI ANTARANYA ;

a. Mengabdi hanya kepada Allah.
b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.
c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.
d. Bersyukur kepada Allah
e. Ikhlas menerima keputusan Allah.
f. Penuh harap kepada Allah
g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh
h. Takut terhadap siksaan Allah
i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.
j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.

Dalam adat diungkapkan “indak dapek salendang pagi, ambiak galah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah juo nan balaku”.

Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan: “kasudahan dunia ka akhirat, kasudahan adat ka balairung, syarak ka ganti nyawa, adat ka ganti tubuah”.


2. NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:

a) Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan, tagak sapamatang.
“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”
b) Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.
”peduli dan solidaritas mesti dipelihara.”
c) Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.
“setia kawan, dengan pengertian membagi berita baik kepada semua orang.”
d) Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang, panarahan ka kayu api.
“santun dan hormat terhadap orang yang lebih tua, memungsikan semua elemen masyarakat yang ada.”
e) Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan manjua.
“berbuat sesuai dengan aturan yang berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”
f) Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka parik paga dalam nagari.
“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, menghargai sesama.”


NILAI-NILAI KEMANUSIAAN DINYATAKAN DALAM SYARAK ANTARA LAIN :

a. Kewajiban untuk menghargai persamaan.
b. Menghormati persamaan manusia lain.
c. Mencintai sesama saudara muslim.
d. Pandai berterima kasih
e. Memenuhi janji.
f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain.
g. Tidak mencari kesalahan.
h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan persatuan
i. Tidak boleh sombong.



3. NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KESATUAN

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat disebutkan ;


a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku, tagak banagari paga nagari
“ menjaga persatuan dan bersama membangun nagari, sesuatu itu harus dimunculkan dari bawah. “
b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo, hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak, kampuang halaman tatap dikana juo
“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”
c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi
“ cari pengalaman yang baik “
d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka pamatang, raso minyak ka kuali
“ suku tidak dapat ditukar “
e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauwan
“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di mana berada “
f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo pinang, sakabek umpamo siriah.
“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “
g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan
“ utamakan musyawarah “
h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.
“ keputusan musyawarah mengikat “
i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak, dengan tepat dan benar.
“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa perpecahan “


NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM SYARAK MELIPUTI:

a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai.
b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan yang kuat.


4. NILAI-NILAI DEMOKRASI DAN MUSYAWARAH

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat meliputi beberapa aspek:


a. Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek, bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.
“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”
b. Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah dibuang, saketek indak buliah disimpan.
“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai dari lapisan terendah, kedudukannya sama dalam hukum “
d. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana, bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.
” taati hukum dan aturan yang berlaku “
e. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek saba bana mandatang
“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat dari satu perbuatan “
f. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak, kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.
“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan pantas “
g. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan
“ bina kerukunan bersama “
h. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo mufakek, buruak dibuang jo etongan.
“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “
i. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek dipanjek.
“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat seenak diri sendiri “
j. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik, badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku, sinan nasi nasi mangko masak.
“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat, perbedaan tidak menimbulkan perselisihan, di sini terdapat dinamika hidup”
k. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakek
“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan kesepakatan “


Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi beberapa aspek yang jelas dalam tata cara dan perilaku melaksanakan musyawarah yang menguatkan pelaksanaan ABS-SBK, di antaranya lemah lembut, dan tidak berlaku keras dan tegang.


5. NILAI-NILAI AKHLAK / BUDI PEKERTI

Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:

a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah baso
“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “
b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo
“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”
c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan
d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun
“memikirkan akibat sebelum berbuat”
e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau
“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat “
f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah
“hati-hati selalu”
g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.
“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa dan pandai membalas jasa“
h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.
“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat dan agama “

Nilai-nilai budi pekerti dan akhlak dalam syarak sangat banyak ditemukan, di antaranya supaya selalu berjalan benar, menjauh dari kesesatan.


6. NILAI-NILAI SOSIAL KEMASYARAKATAN

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara lain:


a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam, nan pakak palatuih badia
“ fungsi ham asasi manusia “
b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.
“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “
c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.
“sifat tolong menolong “
d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.
“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-nilai keadilan “
e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa
“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “
f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak, lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku
“mematuhi aturan yang ada “
g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi parangai.
“ Pendidikan di rumah tangga tentang perilaku dan budi pekerti sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung jawab sejak kecil ”
h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik
“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak memikirkan hal yang akan disampaikan sebelum berbicara “
i. Syarak mangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat manurun
“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat, perjalanan adat penghulu seiring dengan ulama “
j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan, kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan angin.

“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau (Sumbar), menggerakkan potensi moril materil, untuk membangun nagari, dan menghapus kemiskinan”


NILAI-NILAI SOSIAL KEMASYARAKATAN DALAM SYARAK SEBAGAI BERIKUT:

a. Saling tolong menolong.
b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah).
c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama.
d. Berlomba mencapai kebaikan.
e. Tidak boleh mencela dan menghina.
f. Menepati janji.
g. Bersikap adil.
h. Tidak boleh bermusuh-musuhan.
i. Tidak boleh bermarahan.


HUBUNGAN KERABAT DI MINANGKABAU HARMONIS DAN TERJAGA BAIK.

Kekerabatan di Minangkabau tumbuh karena rasa kekeluargaan dan rasa malu.
Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari. Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya.

Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah:


a. rasa memiliki bersama,
b. kesadaran terhadap hak milik,
c. kesadaran terhadap suatu ikatan,
d. kesediaan untuk pengabdian,
e. dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.


Pembangunan Nagari-nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.
Peningkatan usaha ekonomi masyarakat Nagari dipacu dengan mengkaji potensi Nagari.
Menghidupkan koperasi syariah di nagari menjadi semakin strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja yang lebih luas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat di nagari, terutama keluarga miskin.

Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang berhimpun di dalam KAN, karena ;

a) dibalut dengan satu sistem pandangan banagari,
b) cinta kepada Nagari yang sama dipunyai,
c) kegiatan pembangunan yang dipersamakan.

Kekerabatan yang erat telah menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.

Tamak dan loba akan mempertajam permusuhan antara sesama. Bakhil akan meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan.

Setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ
Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan.


Watak yang dibentuk oleh ABS-SBK telah menjadi Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) yang melahirkan lembaga ”tigo tungku sajarangan” yang menata kebijakan bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “anak nagari” Minangkabau.

Dengan demikian masing-masing anggota masyarakat pelaku kegiatan sosial, budaya dan ekonomi pada tingkat sektoral, maupun tingkat perorangan, dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.


MASYARAKAT BERADAT YANG BERADAB HANYA MUNGKIN JIKA DILANDASI KITABULLAH

Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” telah meletakkan landasan filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya, sesuai sunnatullah.

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya. “Kayu pulai di Koto alam, batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”.

Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada, jika patah dia akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis), mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong. Selalu terisi, dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso). Diperkuat sendi keyakinan akidah tauhid, bahwa yang hilang akan berganti. Apa yang ada di tangan kita akan habis, apa yang ada di sisi Allah akan kekal abadi.

Kearifan menangkap perubahan yang terjadi, “sakali aie gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa”.

Setiap perubahan tidak akan mengganti sifat adat, selama adat itu berjalan dengan aturan Allah SWT. Penampilan adat di alam nyata mengikut zaman dan waktu. “Kalau d balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.

Perputaran harmonis dalam “patah tumbuh hilang berganti”, menjadi sempurna dalam “adat di pakai baru, kain dipakai usang”. Adat adalah aturan satu suku bangsa. Menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai. Bertanggungjawab penuh menjaga diri dan masyarakat kini, jikalau tetap dipakai, dan akan mengawal generasi yang akan datang. Dengan keyakinan bahwa kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai landasan masyarakat bertauhid.

Adat Minangkabau dibangun di atas ”Peta Realitas” yang dikonstruksi-kan secara kebahasaan (”linguistic construction of realities”) yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai Kato Pusako.

Pengonstruksian kebahasaan itu berlaku lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “Nan Bana” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.

CATATAN SEJARAH

Alhamdulillah, Minangkabau sebagai kelompok etnis kecil pernah berada di puncak piramida bangsa ini. Putera-puteri terbaik berasal dari budaya Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”suluah bendang”) bangsa Indonesia ini.

ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan sosial budaya yang melahirkan kelompok manusia unggul dan tercerahkan.

ABS-SBK adalah nilai utama yang dapat membina ”anak nagari” yang tumbuh berkembang menjadi generasi nan ka mambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan bagak manantang mato ari, nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik isuak masuak Sarugo.

Ketika ”jalan lah di alieh urang lalu” dan di masa adat dan syarak mulai dikucawaikan, maka bagian peran yang berada di tangan etnis Minangkabau nyaris tak terdengar.

Para penghulu ninik mamak, para ulama suluh bendang, dan para cerdik cendekia, menjadi sasaran keluhan dan pertanyaan umat banyak.

Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, di samakan kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti Di sebutkan indak tahu di nan ampek.

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Dapatlah disimpulkan dengan ABS-SBK telah terjadi semacam lompatan kuantum (”quantum leap”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. Karena mereka hidup dengan perilaku beradat yang dipagari oleh arama (syarak).

Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam dapat diibaratkan bagaikan “siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang nan kambali ka tampuaknyo”.

Dengan Adat Basandi Syarak Syarak, dan Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan keimanan kepada Allah SWT, Nan Sabana Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo.

KHULASAH

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek,
Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek,
Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,
malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.


Membina masyarakat dengan memahamkan adat, yang menjangkau pikiran dan rasa yang dipunyai setiap diri, kemudian di bimbing oleh agama yang mengisi keyakinan sahih (Islam), menanam rasa malu (haya’), raso dan pareso, iman kepada Allah, yakin kepada hari akhirat.

Mengenali hidup akan mati, memancangkan benteng aqidah (tauhid) dari rumah tangga dan lingkungan (surau) menjadi gerakan mencerdaskan umat, sesuai pantun adat di Minangkabau:

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi, indak nan indah pado baso”,

“Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri,
ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan di haragoi”,

“Dulang ameh baok ba –laia, batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah di baie, utang budi di baok mati”,

“Pucuak pauh sadang tajelo, panjuluak bungo galundi,
Nak jauah silang sangketo, Pahaluih baso jo basi”,

“Anjalai tumbuah di munggu, sugi-sugi di rumpun padi,
nak pandai rajin baguru, nak tinggi naiakkan budi”.


Alangkah indahnya satu masyarakat yang memiliki adat yang kokoh dan agama (syarak) yang kuat. Tidak bertentangan satu dan lainnya, malahan yang satu menguatkan yang lainnya dengan mengamalkan “kokgadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik baimbauan, tibo di kaba buruak ba hambauan”.

Alangkah indahnya masyarakat yang hidup dalam rahmat kekerabatan dengan benteng aqidah kuat, berusaha baik di dunia fana dan membawa amal shaleh kealam baqa.

Labuah nan pasa terbentang panjang, tepian tempat mandi terberai (terserak dan terdapat) di mana-mana, gelanggang untuk yang muda-muda serta tempat sang juara (yang mempunyai keahlian, prestasi) dapat mengadu ketangkasan secara sportif berdasarkan adat main “kalah menang” (rules of game). Masyarakatnya hidup aman dan makmur, dengan anugerah alam dan minat seni yang indah.

“Rumah gadang basandi batu, atok ijuak dindiang ba ukie,
cando bintangnyobakilatan, tunggak gaharu lantai candano,
taralinyo gadiang balariak, bubungan burak katabang,
paran gambaran ula ngiang, bagaluik rupo ukie Cino,
batatah dengan aie ameh, salo manyalo aie perak,
tuturan kuro bajuntai, anjuang batingkek ba alun-alun,
paranginan puti di sinan ,
Lumbuang baririk di halaman, rangkiang tujuah sa jaja,
sabuah si Bayau-bayau, panenggang anak dagang lalu,
sabuah si Tinjau Lauik, panengggang anak korong kampuang,
birawari lumbuang nan banyak, makanan anak kamanakan”.



Foto - Ihsan Buya Masoed Za Jabbar


Artinya, ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, keyakinan agama yang menjadi dasar rancang bangun berkualitas punya dasar social, cita-cita keperibadian, masyarakat dan idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi, tapi memperhatikan pula ibnusabil (musafir, anak dagang lalu) dan anak kemenakan di korong kampung, “nan elok di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”, maknanya sangat selektif dan moderat.


Wallahu'alami bis-shawaab.
Masoed Abidin Za Jabbar

Foto - Ihsan Buya Masoed Za Jabbar


Source: http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=414381655887&comments&ref=notif¬if_t=note_reply

Rabu, 31 Mac 2010

Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah






Penulis: H. Mas’oed Abidin

Tajuk Asal:

Membangkitkan Kesadaran Kolektif Akan Nilai Agama Islam di dalam Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Untuk Membangun Manusia Yang Unggul dan Tercerahkan.

Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global.

Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan.

Dalam satu sudut pandang krisis budaya Minangkabau menggambarkan krisis yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf atau Millennium ke Tiga ini.

Salah satu isu yang menjadi kehebohan Dunia akhir-akhir ini adalah isu Perubahan Iklim (“Climate Change”).

Perubahan Iklim telah dirasakan sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan keberadaan Umat Manusia di bumi yang hanya satu ini.

Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia yang memengaruhi lingkungan sedemikian rupa sehingga mengurangi daya-dukungya sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia.


Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”.


Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia.


Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“irreversible”) terhadap alam itu sendiri.


Dan ternyata,
Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.


Dari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab.

Kemungkinan pertama,
Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata.
Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah di mana “ignora mus et ignozabi mus”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.

Kemungkinan kedua,
para ilmuwan telah “lebih dahulu memahami apa yang bakal terjadi”, namun tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk mengubah perilaku manusia dan masyarakat.

Jadi,
Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat.

Singkat kata,
apa yang ada dalam benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme) yang menjadi kesadaran kolektif yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH), ternyata tidak sama sebangun dengan Realitas.


Ketika PDHP itu menjadi acuan perilaku serta kegiatan perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.


Manusia moderen sangat berbangga dengan berbagai isme-isme yang dikembangkannya serta meyakini kebenarannya di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat.


Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia.

Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Alaf Ketiga ini.

Jika kita merujuk kepada Kitabullah, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia.

Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan,
“.....Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia”.

Perilaku manusia lah penyebab semua kerusakan itu. Penyebab perilaku merusak manusia ialah penerapan isme-isme yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat.

Kitabullah yang menjadi landasan dari syarak mangato adat memakai, menjelaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan itu,


يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Apabila anak nagari di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat ini akan di jadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo Luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua sarana ini berperan sempurna, maka di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang berakhlaq perangai terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) itu.

“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.

Kekuatan tamaddun dan tadhamun (budaya) dari syarak (Islam) menjadi rujukan pemikiran, pola tindakan masyarakat berbudaya yang terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah yang jadi ciri utama (sibghah, identitas) iman dan takwa secara nyata yang memiliki relevansi diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan kini dan masa depan.

Suatu individu atau kelompok masyarakat yang kehilangan pegangan hidup (aqidah dan adat), walau secara lahiriyah kaya materi namun miskin mental spiritual, akan terperosok kedalam tingkah laku yang menghancurkan nilai fithrah itu.

Satu ayat dalam Al-Qur’an Surat 12, Yusuf , Ayat 40, sebagai berikut,
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
(QS 12, Yusuf : 40).

Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan khayalan manusia saja.

Disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.

Dengan keterbatasan itu bagaimana manusia mungkin meneruka jalan keselamatan di alam semesta, paling tidak dalam menjalani kehidupan di Dunia ini.

Keutusan Rasul SAW dengan membawa Kitab Suci, yang paling terakhir Al Qur’an, adalah Peta Realitas serta Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaran dalam menjalani hidup di bumi yang fana ini.

Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme, karena kebanyakanmya telah menjauh dari agama langit, bahkan dari konsep-konsep agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka.


Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara ABS-SBK sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan kenyataan kehidupan sehari-hari.

Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan.

SIMPULAN-SIMPULAN :

Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Dicetak Menjadi SDM yang disebut “Ulul Albaab” dengan Menanamkan Nilai-Nilai Ajaran Islam dan Adat Budaya, khusus bagi Masyarakat Adat Minangkabau serta digali dari Al-Qur’an, para “Ulul Albaab”, disebutkan dalam Surat Ali Imran, Surat ke 3, Ayat 190 s/d 194.

Bagi para “uluul albaab” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda. Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat makna yang berada disebalik tanda itu. Proses menjawab pertanyaan itu disebut berpikir yang terarah. Hasil berpikir adalah pikiran tentang sebagian dari kenyataan. Dengan perkataan berpikir akan menghasilkan semacam “peta bagian kenyataan” yang dipikirkan.

Hikmah yang dikandung Al-Qur’an hanya dipahami oleh “ulul albaab” yaitu mereka yang mau berpikir dan merenungkan secara meluas, mendalam tentang apa yang perlu dan patut dipahami dengan maksud agar mengerucut kepada beberapa simpulan kunci.

Para “ulul albaab” adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam dirinya zikir dan fikir menyatu.

Zikir disini harus dipahami lebih luas sebagai hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah s.w.t dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya.

Fikir berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk dan Ajaran Allah s.w.t. sebagaimana diurai-jelaskan oleh Al-Qur’an serta ditafsirkan dan diterapkan oleh Rasullullah lewat Sunnahnya sebagai Teladan Utama (Uswatun Hasanah).

Simpulannya, Penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah.

Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “ulul albaab” sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat.

Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako “Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di Akhiraik Beko Masuak Sarugo“.

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri masing-masing, dan untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus mengetahui kekuatan-kekuatan yang dipunyai.

“Latiak-latiak tabang ka Pinang,
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo”.

“Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadikan guru ” .

Melaksanakan ABSSBK adalah melahirkan sikap cinta ke nagari, yang menjadi perekat pengalaman sejarah. Menumbuhkan sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas. Membentuk umat yang kuat dengan sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, konstruktif (makruf).

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

H. Mas’oed Abidin

Dipetik dengan izin H. Mas’oed Abidin

Rabu, 13 Januari 2010

Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.












Beberapa catatan Buya H.Masoed Abidin (hma), tentang ;

Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam kelompok yaitu:

(1) Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,
(2) Nilai kemanusiaan,
(3) Nilai persatuan dan kesatuan,
(4) Nilai demokrasi dan musyawarah,
(5) Nilai budi pekerti dan raso pareso,
(6) Nilai sosial kemasyarakatan.

Dasar pikiran yang berhubungan dengan nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan dan persatuan, musyawarah dan demokrasi, serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan di antaranya adalah :

1. NILAI-NILAI KETUHANAN YANG MAHA ESA

Nilai-nilai ketuhanan dalam adat dikategorikan dalam bidal yang meliputi:

a. Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah, sanda manyanda kaduonyo.
“ menjaga adat yang Islami”

b. Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.
“ pembagian tugas yang baik, sesuai fungsi masing-masing, mesti bekerja dengan professional.”

c. Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.
“selalu berusaha, dinamis, tidak berputus asa, (rencana di tangan manusia keputusan di tangan Allah SWT).”

d. Limbago jalan batampuah, itu nan hutang ninik mamak, sarugo dek iman taguah, narako dek laku awak.
“kuat beramal karya yang baik, jauhi maksiyat.”

e. Jiko bilal alah maimbau, sado karajo dibarantian, sumbahyang bakaum kito daulu.
“menghidupkan surau, menjaga ibadah masyarakat, jamaah yang kuat dan memajukan pendidikan agama dengan baik,”

f. Jiko urang Islam indak bazakat, harato kumuah diri sansaro.
“zakat kekuatan membangun umat, menghindar dari harta yang kotor, menjauhi korupsi.”

g. Kasudahan adat ka balairung, kasudahan dunia ka akhirat, salah ka Tuhan minta taubat, salah ka manusia minta maaf.
“(menyesali kesahalan, mohon ampunan atas kesahalan, dan berjanji tidak akan melakukan lagi)”

h. Tadorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.
“ menjaga pelaksanaan adat dan agama selalu berjalan seiring”.



Nilai-nilai Adat dalam Syarak

Nilai-nilai ketuhanan dalam syarak meliputi beberapa aspek nilai di antaranya ;

a. Mengabdi hanya kepada Allah

Allah Swt. berfirman:
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون (الذريت: 57)

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Zariyat: 56)

وما امر الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقموا الصلوة ويؤتوا الذكوة وذلك دين القيمة (البينة:
5)

“Pada hal tidak diperintahkan mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karena-Nya dengan menjauhi kesesatan, dan (supaya) mereka mendirikan shalat dan memberi zakat, karena yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayinah: 5)


b. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah.

Allah berfirman:
يايها الذين امنوا اطيعوا الله ورسوله ولاتولوا عنه وانتم تسمعون (الانفال: 20)

“Wahai ummat yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari padanya, padahal kamu mendengar”. (al-Anfal: 20)

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا (الناس: 6)

“Karena siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu adalah beserta ummat yang Allah beri nikmat atasnya, dari Nabi-Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin dan alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat karib”. (an-Nisa: 69)


c. Berserah diri kepada ketentuan Allah.

Allah berfirman:
وعسى ان تكرهوا شيئا خيرلكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وانتم لاتعلمون (البقرة: 216)

“ Mungkin kamu benci kepada sesuatu, padahal ia itu satu kebaikan bagi kamu, dan mungkin kamu suka akan sesuatu tapi ia tidak baik kamu, dan Allah itu Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”. (al-Baqarah: 216)

الذين إذا اصابتهم مصيبة قالوا انا الله وانا اليه راجعون (البقرة:
157)

“Yang apabila terjadi terhadap mereka suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali”. (al-Baqarah: 156)


d. Bersyukur kepada Allah

Allah berfirman
واذا تأذن ربكم لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم ان عذابى لشديد (ابراهيم: 7)

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberi tahu jika kamu berterima kasih niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, bila kamu tidak bersyukur akan nikmat maka azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim: 6-7)


e. Ikhlas menerima keputusan Allah.
ولو انهم رضوا ما اتهم الله ورسوله وقالوا حسبنا الله سيؤتينا الله من فضله ورسوله انا إلى الله راغبون (التوبة: 59)

“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah Allah bagi kami, sesungguhnya Allah dan rasul-Nya akan beri kepada kamu karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah”. (al-Taubah: 59).

كتب الله مقاد ير الخلا ئق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين الف سنه (رواه مسلم)

“Allah telah menentukan kepastian/ketetapan terhadap semua makhluk-Nya sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun”. (HR. Muslim)


f. Penuh harap kepada Allah

Allah berfirman:
وا ما تعرضن عنهم ابتعاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولاميسورا (بني اسرائيل: 28)

“Dan jika engkau berpaling dari mereka, karena mengharapkan (menunggu) rahmat dari Tuhanmu, yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang lemah lembut”. (bani Isra’il: 28)

من كان يرجوا لقاء الله فان اجل الله رات وهو السميع عليم (العنكبوت: 5)

“Siapa saja yang mengharapkan pertemuan (dengan) Allah, maka sesungguhnya waktu (perjanjian) Allah akan datang, dan Dia yang Mendengar, yang Mengetahui”. (al-Ankabut: 5)

ان الذين امنوا والذين هاجروا وجاهدوا فى سبيل الله اولئك يرجون رحمت الله والله غفور رحيم (البقرة: 218)

“Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja keras (berjihad) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap rahmat Allah dan Allah itu Pengampun, Penyayang”. (al-Baqarah: 218)


g. Takut dengan rasa tunduk dan patuh
انما يعمر مساجد الله من أ من بالله واليوم الأ خر واقام الصلوة واتى الزكوة ولم يخسى الا الله فعسى اولئك ان يكونوا من المهتدين (الاتوبة: 18)

“Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid Allah ummat yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mendirikan shalat dan membayarkan zakat. Maka Allahlah yang lebih berhak kamu takuti, jika memang kamu ummat yang beriman”. (al-Taubah: 13)

فلا تخشوا الناس واخشون ولاتشتروا بأ يا تي ثمنا قليلا (المائدة: 44)

“Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku (Allah) dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah (sedikit)”. (al-Maidah: 44)

امنا يخشى الله من عباده العلماؤا … (فاطر: 28)

“Tidak ada yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya kecuali ulama (berilmu)”. (Fathir: 28)


h. Takut terhadap siksaan Allah
Allah Berfirman:
ان في ذلك لاية لمن خاف عذاب الاخرة ذلك يوم تجموع له الناس وذلك يوم مشهود … (هود: 103)

“Sesungguhnya di dalam itu ada tanda bagi orang yang takut kepada azab akhirat: ialah hari yang dikumpulkan padanya manusia dan ialah hari yang akan disaksikan”. (Hud: 103)

كمثل الشيطن اذ قال للا نسان اكفر فلما كفر قال اني بريء منك انى اخاف الله رب العالمين … (الحشر: 16)

“(Mereka adalah) seperti syetan tatkala berkata kepada mereka: kufurlah setelah manusia itu kufur, ia berkata: Aku berlepas diri dari padamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan bagi alam semesta”. (al-Hasyr: 16)


i. Berdo’a memohon pertolongan Allah.

Allah berfirman:
واذا سألك عبادي عنى فانى قريب أ جيب دعوة الداع إذا دعان فليستجبوا لى وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون (البقرة: 186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat (hampir), Aku akan perkenankan setiap permohonan hamba-hamba Ku manakala bermohon kepada KU …

وقال ربكم ادعونى استجب لكم (المؤمن:
60)

“Dan telah berkata Tuhan kamu: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa untukmu”. (al-mukmin: 60)

ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها (الاعراف: 180)

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, oleh karena itu berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu”. (al-A’raf: 180)

ولا تدع من دون الله مالا ينفعك ولا يضرك (يونس: 106)

“Jangan kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak bisa memberi manfaat kepadamu dan tidak bisa memudarakan (membahayakan)”. (Yunus: 106)



j. Cinta dengan penuh harap kepada Allah.

Allah berfirman:
فإ ذا فرغت فانصب وإ لى ربك فارغب (الانشراح: 7-8)

“Lantaran itu, apabila kamu telah selesai mengerjakan sesuatu tugas maka kerjakanlah tugas baru dengan baik. Dan kepada Tuhanmu maka hendaklah kamu berharap dengan rasa cinta”. (al-Insyirah: 7-8)

عسى ربنا أ ن يبدلنا خيرا منها إ نا إلى ربنا راغبون (القلم: 32)

“Mudah-mudahan Tuhan kita mengganti untuk kita (kebun) yang lebih baik dari pada itu. Sesungguhnya kepada Tuhan kitalah kita berpegang baik”. (al-Qarim: 32)


Dalam adat diungkapkan
“indak dapek salendang pagi,
ambiak galah ka paraku,
indak dapek bakandak hati,
kandak Allah juo nan balaku”.

Bahwa bimbingan syarak berlaku dalam adat, disebutkan:
“kasudahan dunia ka akhirat,
kasudahan adat ka balairung,
syarak ka ganti nyawa,
adat ka ganti tubuah”.



2. NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Nilai-nilai kemanusiaan ini dinyatakan dalam adat meliputi:

a). Duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak sahamparan, tagak sapamatang.
“menjaga kesetaraan dalam bermasyarakat.”

b). Sasakik sasanang, sahino samalu, sabarek sapikua.
”peduli dan solidaritas mesti dipelihara.”

c). Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.
“setia kawan, dengan pengertian membagi berita baik kepada semua orang.”

d). Nan ketek dikasihi, nan samo gadang lawan baiyo, nan tuo dihormati. Nan bungkuak ka tangkai bajak, nan luruih ka tangkai sapu, satampok ka papan tuai, nan ketek ka pasak suntiang, panarahan ka kayu api.

“santun dan hormat terhadap orang yang lebih tua, memungsikan semua elemen masyarakat yang ada.”

e). Kok gadang jan malendo, panjang jan malindih, cadiak jan manjua.
“berbuat sesuai dengan aturan yang berlaku, cerdik tidak memakan lawan.”

f). Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam, nan binguang pangakok karajo, nan cadiak lawan baiyo, nan pandai tampek batanyo, nan tahu tampek baguru, nan kayo tampek batenggang, nan bagak ka parik paga dalam nagari.
“memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, menghargai sesama.”



Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :

a. Kewajiban untuk menghargai persamaan (egaliter)
Allah berfirman:
يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند الله أ تقاكم، إ ن الله عليم خبير. الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)

b. Menghormati persamaan manusia lain.
Sabda rasulullah
ليس المسلم بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذئ (رواه الترمذي)

Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)


c. Mencintai sesama saudara muslim
لا يؤمن أ حدكم حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه (رواه البخارى ومسلم)

Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya (HR. Bukari Muslim)


d. Pandai berterima kasih
Sabda rasulullah
لا يشكر الله من لا يشكر الناس (ابو داود واحمد)

Tidak dapat bersukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain (HR. Abu Daud dan Ahmad


e. Memenuhi janji
Allah berfirman
وأ فوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كفيلا إ ن الله يعلم ما تفعلون (النحل: 91)

Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu mengingkari itu sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai pemelihara. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Nahl: 91).


f. Tidak boleh mengejek dan meremehkan orang lain
Firman Allah:
يأ يها الذين أ منوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم (الحجرات: 11)

Janganlah kamu mengejek atau merendahkan diri orang lain, saudara atau teman dekatmu dengan membicarakan kekurangan atau membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan hatinya, sesungguhnya perbuatan demikian adalah sikap yang tercela.


g. Tidak mencari kesalahan
Allah berfirman:
ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أ حدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (الحجرات: 12)

Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu membencinya (al-Hujurat: 12)


h. Bergaul baik dengan menjaga persaudaraan dan persatuan
Allah berfirman
إ نما المؤمنون إ خوة فأ صلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون (الحجرات: 10).

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10).


i. Tidak boleh sombong
ولا تمشى في الأ رض مرحا … (لقمان: 19)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (Lukman: 18)



3. NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KESATUAN

Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam adat

a. Tagak kampuang paga kampuang, tagak suku paga suku, tagak banagari paga nagari
“ menjaga persatuan dan bersama membangun nagari, sesuatu itu harus dimunculkan dari bawah. “

b. Satinggi-tinggi tabang bangau, kumbalinyo ka kubangan juo, hujan ameh di rantau urang, hujan batu di kampuang awak, kampuang halaman tatap dikana juo
“ ada tempat kembali, semua akan kembali ke asal ”

c. Jauh bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak dirasoi
“ cari pengalaman yang baik “

d. Malu tak dapek dibagi, suku tak dapek diasak, raso ayia ka pamatang, raso minyak ka kuali
“ suku tidak dapat ditukar “

e. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauwan
“ selalu berbuat baik menyatu dengan lingkungan di mana berada “

f. Banabu-nabu bak cubadak, baruang-ruang bak durian, nan tangkainyo hanya sabuah, nan batangnyo hanyo satu, saikek umpamo lidi, sarumpun umpamo sarai, satandan umpamo pinang, sakabek umpamo siriah.

“ tidak boleh berpecah belah, jauhi silang sengketa “

g. elok di ambiak jo mupakat, buruak di buang jo etongan
“ utamakan musyawarah “

h. randah tak dapek dilangkahi tinggi tak dapek dipanjek.
“ keputusan musyawarah mengikat “

i. bersilang kayu dalam tungku sinan nasi mangko masak, dengan tepat dan benar.
“ perbedaan pendapat tidak boleh membawa perpecahan “


Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam syarat meliputi:

a. Bersatu tidak boleh bercerai-cerai
يأ يها الذين أمنوا إ تقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. واعتصموا بحيبل الله جميعا ولا تفرقوا، واذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا، وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها، كذلك يبين الله لكم أ ياته لعلكم تهتدون (ال عمران: 102-103).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-cerai dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kamu dulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran; 102-103).


b. Orang yang beriman ibarat sebuat bangunan
Sabda Rasulullah saw
أ لمؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه البخارى ومسلم)

Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, bagi suatu bangunan yang menopang satu bagian terhadap bagian lainnya (HR. Bukhri dan Muslim.

Firman Allah SWT
ضربت عليهم الذلة أ ين ما ثقفوا إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبأؤ بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة، ذلك بأ انهم كانوا يكفرون بأ يات الله ويقتلون الأ ابياء بغير حق، ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون (ال عمران: 112).

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tlai (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS. Ali Imran: 112).


4. Nilai-nilai Demokrasi dan Musyawarah

Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam adat meliputi beberapa aspek

a. Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakek, bulek dapek digolongkan, pipiah buliah dilayangkan.
“Taat pada kesepakatan hasil musyawarah”

b. Kato nan banyak dari bawah, banyak indak buliah dibuang, saketek indak buliah disimpan.
“ Peranan masyarakat berpatisipasi, mulai dari lapisan terendah, kedudukannya sama dalam hukum “

c. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakek, mufakek barajo ka nan bana, bana badiri sandirinya, manuruik alua jo patuik.
” taati hukum dan aturan yang berlaku “

d. Pikia palito hati, tanang hulu bicaro, aniang saribu aka, dek saba bana mandating
“ sebelum berbuat lakukan penelitian dan kaji segala kemungkinan, sebab dan akibat dari satu perbuatan “
e. Suri tagantuang batanuni, luak taganang nan basawuak, kayu batakuak barabahkan, janji babuek batapati.
“tetapi janji, lakukan sesuatu menurut patut dan pantas “

f. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik, kato surang babulati, kato basamo dipaiyokan
“ bina kerukunan bersama “

g. Baiyo-iyo jo adiak, batido-tido jo kakak, elok diambiak jo mufakek, buruak dibuang jo etongan.
“ teguhkan persaudaraan, kembangkan dialog “

h. Sabalik bapaga kawek, randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek dipanjek.
“ hidup mesti berperaturan, tidak boleh berbuat seenak diri sendiri “

i. Galugua buah galugua, tumbuah sarumpun jo puluik-puluik, badampiang jo batang jarak, basilang kayu dalam tungku, sinan nasi nasi mangko masak.
“tidak perlu cemas untuk berbeda pendapat, perbedaan tidak menimbulkan perselisihan, di sini terdapat dinamika hidup”

j. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana, nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakek
“ permusyawaratan perwakilan, teguh melaksanakan kesepakatan “


Nilai-nilai demokrasi dan musyawarah di dalam syarak meliputi beberapa aspek yang jelas dalam tata cara melaksanakan musyawarah serta perilaku ini, akan menguatkan pelaksanaan ABS-SBK, di antaranya ;
Firman Allah SWT
فبما رحمة من الله لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك، فاعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم فى الامر فإذاعزمت فتوكل على الله، إن الله يحب المتوكلين (ال عمران: 159).

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah ia menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imran: 159).


Firman Allah SWT
… وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون (الشورى: 38).

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS. Al-Syura: 38).


Sabda Rasulullah SAW
ما خاب من اتخار ولا ندم من اشتشار

Tidak akan gagal orang yang mengerjakan istikharah dan tidak pula menyesal orang yang melakukan musyawarah


Sabda Rasulullah
المستشار مؤتمن

“Orang-orang yang melakukan musyawarah akan tentram (aman)”




5. NILAI-NILAI AKHLAK / BUDI PEKERTI

Nilai-nilai budi pekerti / akhlak dalam adat meliputi:

a. Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan bayiak budi, nan indah baso
“Budi pekerti dan bahasa sopan santun diperlukan “

b. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, salamo hiduik urang tak picayo
“jangan pernah berbuat salah, selalu menjaga diri”

c. Batanyo lapeh arak, barundiang sudah makan

d. Raso dibaok nayiak, pareso dibaok turun
“memikirkan akibat sebelum berbuat”

e. Sulaman manjalo todak, naiak sampan turun parahu, punyo padoman ambo tidak, angin bakisa ambo tau
“ selalu mempergunakan akal sehat sebelum berbuat “

f. Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah
“hati-hati selalu”

g. Pisang ameh baok balayia, masak sabuah di dalam peti, utang ameh dapek dibayia, utang budi dibaok mati.
“selalu berbuat baik, hidup dengan berjasa dan pandai membalas jasa“

h. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang, jikok hiduik indak babudi, duduak tagak ka mari tangguang.
“ tidak melupakan tata kerama bergaul menurut adat dan agama “



Nilai-nilai budi pekerti dan akhlak dalam syarak sangat banyak ditemukan:
Firman Allah SWT
لا إ كراه في الدين، قد تبين الرشد من الغي، فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد إ ستمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها، والله سميع عليم (البقرة: 256)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)


Firman Allah SWT
هو الذي خلقكم فمنكم كا فر ومنكم مؤمن والله بما تعملون بصير (التغابون: 2)

Dialah yang menciptakan kamu, maka diantara kamu ada yang kafir dan diantaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Taghabun: 2)


Firman Allah SWT
لا يكلف الله نفسا إ لا وسعها، لها ما كسبت وعليها ما ا كتسبت، ربنا لا تؤخذنا إ ن نسينا أو اخطأنا، ربنا ولا تحمل علينا إ صرا كما حملته على الذين من قبلنا، ربنا ولا تحملنا ما لا طقة لنا به، واعف عنا، واغفرلنا، وارحمنا، انت مولنا فانصرنا على القوم الكفرين (البقرة: 286).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, (mereka berdoa): ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (QS. Al-Baqarah: 286).


Sabda Rasulullah SAW
يسروا ولا تعسروا وبشروا ولا تنفروا (رواه البخارى)

Permudahlah jangan mempersulit dan gembirakanlah jangan menakut-nakuti (HR. Bukari).




6. NILAI-NILAI SOSIAL KEMASYARAKATAN

Nilai-nilai sosial kemasyarakatan adat dan syarak meliputi antara lain

a. Nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah pengajuik ayam, nan pakak palatuih badia
“ fungsi ham asasi manusia “

b. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, nan barek makanan bahu, nan ringan makanan jinjiang.
“ suka bergotong royong, memelihara kerja sama “

c. Takajuik urang tagampa awak, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan.
“sifat tolong menolong “

d. Bungka ameh manahan asah, ameh batua manahan uji, kato batua manahan sudi, hukum batuah manahan bandiang.
“ kualitas, ekonomi, professional, menegakkan nilai-nilai keadilan “

e. Nan tak untuak jan diambiak, nan bakeh yo diunyi, turuik alua nan luruih, tampuah jalan nan pasa
“menjaga keseimbangn antara hak dan kewajiban “

f. Sawahlah diagiah pamatang, ladanglah diagiah bamintalak, lah tantu hinggo jo batehnya, lah tahu rueh jo buku
“mematuhi aturan yang ada “

g. Ketek taraja-raja, gadang tarubah tidak, lah tuo jadi parangai.
“ Pendidikan di rumah tangga tentang perilaku dan budi pekerti
sangat penting. Menanamkan perilaku bertanggung jawab
sejak kecil ”

h. Kato sapatah dipikiri, jalan salangkah ma adok suruik
“ Hati-hati dalam berucap dan bertindak memikirkan hal yang akan disampaikan sebelum berbicara “

i. Syarak mangato, adat mamakai, syarak mandaki, adat manurun
“ Ketetapan syarak dipakai dalam adat, perjalanan adat penghulu seiring dengan ulama “

j. Sasakik sasanang, sahino samalu, nan ado samo dimakan, kok indak samo ditahan, barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, tatilungkuik samo makan tanah, talilantang samo makan angin.

“ Rasa kebersamaan, gotong royong wajib ditumbuhkan di tengah masyarakat Minangkabau (Sumbar), menggerakkan potensi moril materil, untuk membangun nagari, dan menghapus kemiskinan”



Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai berikut:

a. Saling tolong menolong
Firman Allah SWT
تعاونوا على البر واتقوا ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (المائدة: 2)

Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).


Sabda Rasulullah SAW
انصر اخاك ظالما أو مظلوما (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukari)


Sabda Rasulullah
ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا (رواه ابو داود وترمذى)

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi).


Sabda Rasulullah
تحجزة من ظلمه فذلك نصره

“Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya”



b. Tidak boleh memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah)
وعليكم بالجمعة فمن شذ شذ في النار (رواه ترميذ)

Kamu harus hidup dalam jama’ah siapa saja yang mengasingkan diri dari jama’ah, dia akan menyendiri masuk ke dalam api neraka (HR. Tirmizi).


c. Waspada dan menjaga keselamatan bersama
Allah berfirman
وتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة (الانفال: 25).

Takutlah kamu kepada fitnah yang tidak hanya menimpa kepada orang yang zalim saja (QS. al-Anfal: 25)


Allah SWT berfirman
وتواصوا بالحق وتواصو بالصبر (العصر: 3)

Saling menasehatilah tentang kebenaran dan saling menasehatilah dengan kesabaran (al-Ashr: 3)


Sabda Rasulullah SAW
إذا استنصح احدكم اخاه فالينصح له (رواه البخارى)

Jika kamu dimintai nasehat oleh salah seorang saudaramu, maka berikanlah nasehatmu kepadanya (HR. Bukhari)


Sabda Rasulullah SAW:
الدين النصيحة سئل لمن؟ فقال: فقال: لله ولكتابه ولرسوله ولامة المسلمين عامتهم

Agama itu nasehat, kemudian ditanyakan kepada beliau, bagi siapa nasehat itu? Rasulullah menjawab: bagi Allah, bagi kitab-kitabnya, bagi rasulnya, bagi para pemimpin muslim, dan jama’ah pada umumnya (HR. Muslim)


d. Berlomba mencapai kebaikan
Allah SWT berfirman
فاستبقوا الخيرات … (البقرة: 146)

Dan saling berlombalah kamu untuk berbuat kebaikan di mana kamu berada (QS. al-Baqarah: 146)


Sabda Rasulullah SAW
اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji). (HR. Hakim dan Tarmizi).


e. Tidak boleh mencela dan menghina
Allah SWT berfirman
يايها الذين امنوا لا يسخر قوم من قوم عسى ان يكونوا خيرا منهم
ولا نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ولا تلمزوا انفسكم ولا تنابزوا بالالقاب بئس الاسم الفسوق بعد الايمان ومن لم يتب فاولئك هم الظلمون (الحجرات: 11).

Wahai umat yang beriman, janganlah hendaknya terjadi suatu kaum menghina kaum yang lainnya, boleh jadi yang dihina ternyata lebih baik keadaannya daripada yang menghina. Demikian juga janganlah para wanita itu menghina kelompok wanita yang lainnya, karena boleh jadi wanita yang dicela itu lebih baik dari yang mencela. Janganlah saling mencerca dan janganlah berolok-olok dengan sebutan-sebutan yang jelek. Seburuk-buruk sebutan fasik sesudah orang itu beriman (al-Hujurat: 11).


f. Menepati janji
Firman Allah SWT:
يايها الذين امنوا اوفوا بالعقود (المائدة: 1)

Wahai umat yang beriman, penuhilah selalu janji-janjimu (QS. al-Maidah: 1)


Firman Allah SWT:
والموفون بعهدهم إذا عاهدوا البقرة: 177)

Dan orang-orang yang selalu menyempurnakan janji-janjinya, jika ia membuat perjanjian (QS. al-Baqarah: 177)



g. Bersikap adil

Allah SWT berfirman:
قل امر ربي بالقسط (البقرة: 29)

Katakanlah: telah memerintahkan Tuhanku agar berbuat adil (QS. al-A’raf: 29)


Allah SWT berfirman:
يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خبير بما تعملون (المائدة: 8).

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi, dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adilah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).


Allah SWT berfirman:
خذ العفو وأمر بالمعرف واعرض عن الجاهلين (الاعراف: 199)

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka). (QS. al-A’raf: 199)


Sabda Rasulullah SAW:
اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الحاكم والترمذي)

Bertakwalah selalu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah selalu perbuatan salahmu dengan kebaikan, semoga dapat terhapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan selalu bersikap ikhlas (terpuji) (HR. al-Hakim dan Tirmizi).


h. Tidak boleh bermusuh-musuhan

Rasulullah SAW bersabda:
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تجسسوا ولا تسسو ولا تناجشوا وكونوا عبد الله اخوانا (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda; janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling mencari kesalahan yang lain, saling mengumpat dan jangan pula saling menipu. Tetapi jadilah kam hamba-hamba Allah penuh persaudaraan (HR. Bukhari dan Muslim).


Sabda Rasulullah SAW
سباب المسلم لسوق وقتاله كفر (رواه بخارى ومسلم)

Mencerca seorang muslim adalah fasiq, dan membunuh seorang muslim adalah kufur (HR. Bukhri dan Muslim)


Sabda Rasulullah SAW:
انصر اخاك ظالما أو مظلوما (رواه البخارى)

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukhari).


Sabda Rasulullah:
ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يعرف حق كبيرنا (رواه ابو داود وترميذي).

Tidak termasuk umatku orang yang tidak mengasihi generasi muda dan tidak menghormati orang tua (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Sabda Rasulullah:
تحجزه من ظلمه فذلك نصره

Hindarkanlah atau cegahlah dia dari bertindak aniaya itulah cara menolongnya.


Sabda Rasulullah:
المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يخذ له (رواه ابو داود)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, karena itu tidak menganiaya saudaranya, tidak merendahkan derajatnya dan tidak menanggapinya sepele dan hina (HR. Abu Daud).



i. Tidak boleh bermarahan.

Rasulullah SAW bersabda:
لا يحل لمسلم ان يهجر اخاه فوق ثلاث

Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari (HR. Bukari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Muwatha’ dan Ahmad).


Allah SWT berfirman:
يايها الذين امنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا تجر منكم شنان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى ان الله خير بما تعملون (المائدة: 8)

Wahai umat yang beriman, hendaklah kamu menjadi manusia yang lurus karena Allah dan menjadi saksi dan janganlah kebencian atas suatu kaum menyebabkan kamu tidak adil. Berlaku adillah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (kebaktian). Bertakwalah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah amat mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8).

Allah SWT berfirman:
خذ العفو وأمر بالعرف واعرض عن الجاهلين (الاعراف: 199).

Berilah maaf dan anjurkanlah orang untuk berbuat adil dan hindarilah pergaulan dengan orang-orang bodoh (kecuali untuk mendidik mereka).


Karena itu masyarakat Minangkabau yang beradat dan beragama selalu dalam hidupnya diingatkan untuk mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini (dibalik mati) itu.

Sesuai dengan peringatan Ilahi.

“ bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar Ra’du : 11).


Satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam "iklim adat basandi syara' syara' basandi Kitabullah", dalam rangka pembinan negara dan bangsa keseluruhannya, semata untuk melaksanakan Firman Ilahi;

"Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri anak nagari,

“Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.”

Ketahuilah bahwa ni’mat Allah, sangat banyak.

“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ; "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist).

Keseimbangan tampak jelas dalam menjaga kemakmuran di ranah ini,

“Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Hal ini seiring dengan bimbingan hadist Rasul SAW,
"Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok
dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).

Dianjurkan, jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil.

Diajarkan, bahwa Allah SWT telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka, berjalanlah di atas permukaan bumi, makanlah dari rezekiNya, kepadaNya lah tempat kamu kembali.

"Maka berpencarlah kamu di atas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan". (QS.62, Al Jumu'ah : 10).
Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Agama Islam membangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness), kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, yang menyebabkan pertukaran malam dan siang, dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun.

Menyia-nyiakan waktu, dengan pasti akan merugi.
Maka, kehidupan mesti diisi dengan amal berguna.

” dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan ” (QS.78, An Naba' : 10-11).

Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.

Jangan melewati batas, dan berlebihan. Jangan boros.

"Wahai Bani Adam, ailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". (QS..7, Al A'raf : 31)

Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak, untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya, dan menikmatinya sambil mensyukurinya. Tuntutan syar’i (syarak mangato adaik mamakai) adalah, beribadah kepada Ilahi.

Catatan:
Penyiaran semula tulisan Buya Masoed Abidin ZAbidin Jabbar dibuat setelah mendapat keizinan dari Buya - Idris Ismail Talu

Tulisan-tulisan Buya Mas'oed Abidin ZAbidin Jabbar boleh dibaca di:-
http://masoedabidin.wordpress.com/
http://blogminangkabau.wordpress.com/

CLICK NOW

Tajuk Kegemaran