TO ALL MY BLOG READERS

TERIMA KASIH - شكرا لك - THANK YOU - ありがとうございました - 谢谢您 - Teşekkürler - Mulţumesc - Obrigado

Isnin, 24 Ogos 2009

UiTM - Malam Simfoni Kasih '09



©IdrisTalu@2009

UiTM - First Director

A very interesting book about UiTM first director, Tan Sri Arshad Ayob. A "must" to be read by all UiTM alumni.



©IdrisTalu@2009

Ahad, 23 Ogos 2009

Kopi Daun - Made In Batusangkar

by Yulnofrins Napilus (ynapilus)

http://www.nofrins.west-sumatra.com

Artikel Kopi Daun - Made In Batusangkar, saya petik dengan izin dari website http://www.west-sumatra.com/


Photo and article credit: Yulnofrins Napilus (ynapilus).

Description : Ini bagian yang paling saya nikmati di arena pacu Jawi. Menyeruput Kopi Daun yang disajikan di Batok Kelapa (lokal: Tampuruang Karambie) di warung dadakan ditengah sawah dengan kondisi seadanya...! Apalagi pas cuacanya mendung dan hujan gerimis pula, ditambah Pisang Goreng Panas, alamaakkk... sedap kali pun kata orang Medan...:) Kalau di Jepang ada acara Minum Sake. Tapi di Batusangkar ada acara Minum Kopi Daun di Tengah Sawah...!

Kopi Daun dibuat dari daun kopi yang telah dikeringkan sebelumnya, lalu direbus dan dikasih gula secukupnya. Rasanya...? Antara rasa Kopi dan rasa Teh. Yang jelas low caffeine kata Yunus...:) Penyajian dengan Batok Kelapa dan ganjalan dengan Bambu seperti ini, menambah sensasinya rasa Kopi Daun. Semoga style seperti ini tetap dipertahankan. Yang penting bersih. Jangan dipindah ke gelas atau diganjal dengan mangkok atau peralatan yang modern. Turun kelasnya ntar...!

Apalagi kalau Pisang Goreng tsb juga ditempatkan dengan "piring rotan" atau "piring lidi kelapa dirajut" dan dilapis Daun Pisang segar, wow... itu akan semakin meningkatkan selera kelahapannya...!

Salah satu alasan kenapa saya juga suka makan di rumah makan Sunda, krn nuansanya itu. Dihidangkan secara lokal, masih menggunakan daun pisang, piring-piring tanah, tempat cabenya dr tanah liat, tempat nasi asli anyaman bambu, dll. Plus alunan musik Sunda asli. Didindingnya dihiasi dengan foto-foto pemandangan Alam Parahyangan. Sampai-sampai salah satu Direktur RCTI Group memanggil dan mengajak agar melihat dan merasakan suasananya. Mungkin bisa ditreapkan juga buat rumah-rumah makan Minang...

Didalam Industri Pariwisata Modern saat ini dan ke masa depan nanti, semakin berbau lokal, semakin bernilai etnis, akan semakin unik. Sehingga nilai jualnya akan SEMAKIN MAHAL...! Wisatawan akan berlomba-lomba mengeluarkan uangnya juta-jutaan kesana hanya untuk merasakan SENSASI-SENSASI LOKAL seperti ini. Semoga KOPI DAUN ini akan jadi ikon berikutnya dari Batusangkar...! Insya allah...

Semoga Pemda, dalam hal ini kawan-kawan dari Dinas Pariwisata bisa membantu memberi pengarahan dan penyuluhan ke Masyarakat tentang aspek Green Tourism ini. Termasuk juga memicu adanya Cindera Mata (souvenirs) lokal yang bisa dijual. T-Shirt juga. Ini akan menghidupkan perekonomian masyarakat.

Saya liat kemaren, sudah mulai banyak, ada puluhan wisatawan datang dari luar Sumbar. Ada wisatawan asingnya juga. Bbrp dibawa oleh Tour Agents. Kalau kualitas cindera mata ini cukup terjaga baik, pasti mereka akan senang membelinya... Sebagai bukti bahwa mereka sudah pernah menghadiri acara PACU JAWI dan menikmati KOPI DAUN...:)

Penyediaan Penginapan yang bersih, belum perlu hotel berbintang, sudah sangat mendesak sebetulnya di Batusangkar. Tapi harus dikelola secara profesional. Kalau bisa jangan hanya bangunan semen standard saja. Krn kurang unik dan kurang jadi daya tarik tersendiri, akan sulit bagi Tour Agents menjualnya agar wisatawan mau bertahan disana. Home stay di Rumah-rumah Gadang, akan sangat experiencing buat wisatawan. Ada Ridwan Tulus di Padang yang jago mengemas paket-paket khusus seperti ini dan sudah diakui secara Internasional...

Jumlah obyek wisatanya, bersejarah dan langka, apalagi atraksi Keseniannya (masih banyak yg belum terekspose), sudah SANGAT BANYAK dan VARIATIF sekali untuk ukuran sebuah Kabupaten. Kalau ini semua dikelola dengan lebih baik lagi, termasuk brosur-brosur dalam Bahasa Inggeris juga, Tour Guide yang sopan, mestinya ini sudah bisa memaksa wisatawan untuk menginap disana dan "mengucurkan" uangnya di Kabupaten Tanah Datar. Sehingga keluhan Pak Bupati minggu lalu bahwa umumnya wisatawan maunya nginap di Bukittinggi atau bahkan kembali ke Padang, bisa berkurang.

Terima kasih buat Pak Abrar Nurhasan yang telah menemani dan mentraktir saya dan keluarga minum KOPI DAUN ini. I'll be back...!

Yulnofrins Napilus (ynapilus)
http://www.west-sumatra.com/

Sokongan Kepada Pariwisata Ranah Minang

By Idris Talu

Penulis juga sekali sekala, menyumbang foto-foto yang penulis snap selama berada di Ranah Minang di website http://www.west-sumatra.com/.

Website ini berfungsi sebagai gedung arkib pelbagai foto-foto yang menarik tentang alam Minangkabau untuk dinikmati oleh seluruh pecinta keindahan alam semulajadi dari seluruh dunia.

Di bawah merupakan salah satu foto yang penulis ambil yang tersiar di website tersebut. Sila kunjungi website tersebut untuk menikmati keindahan Ranah Minangkabau yang terkenal indah tersebut.



Courtesy of http://www.west-sumatra.com/


©IdrisTalu@2009

Sabtu, 22 Ogos 2009

Timun Betik @ Timun Suri

By Idris Talu

20 August 2009

Selepas selesai solat Maghrib di Pantai Pasir Panjang yang diimamkan oleh Tan Sri Dr Harussani Zakaria, Mufti Kerajaan Negeri Perak, penulis bersama isteri dan cucu kami, Idham pun bergerak balik ke Ipoh melalui Ayer Tawar, tempat yang ramai diduduki masyarakat perantau Mandailing itu.

Tiba di Restoran Roti Segar sekitar jam sembilan malam, kami singgah untuk mengisi perut. Isteri penulis memesan laksa, Idham minta nasi ayam dan penulis teringin mee sup yang boleh menyegarkan badan di malam yang mula kehujanan itu.

Selepas makan, isteri penulis membeli sedikit roti untuk cucu-cucu dan Ihsan yang ada di rumah.

Beres di Roti Segar, kami begerak balik ke Ipoh dan singgah di warung jualan rakyat di Titi Gantung. Rasa agak bertuah kerana timun betik atau timun suri yang penulis cari selama ini ada dijual di warung tersebut.

Betul sebagaimana yang penulis jangkakan, petani akan menanam timun betik khusus untuk pasaran dalam bulan Ramadhan.

Nampaknya mereka lebih faham tentang strategi pemasaran yang diwarwarkan oleh Kotler, walau pun belum pernah membaca buku Kotler, berbanding mereka yang hampir setiap hari membaca buku Kotler tetapi hanya untuk lulus peperiksaan sahaja.

Banyak betul buah timun betik itu kali ini. Buahnya sudah masak ranum, berbau wangi dan menyelerakan.







Penulis memilih dua biji buah timun betik yang agak berbeda warna kulitnya. Yang pertama agak kehijauan warna kulitnya.

Sementara yang kedua, agak lembut kerana sudah masak, berbau harum dan agak perang keputihan warna kulitnya.



Untuk menikmati kelazatan buah timun betik, ianya perlu "kawan" yang boleh menaikkan kelazatan buah tersebut. Pertama ialah santan kelapa (coconut milk) yang agak pekat. Seeloknya santan tersebut dipanaskan ke atas api sebentar.

"Kawan" kedua timun betik ialah gula enau atau gula melaka yang telah dicairkan (dimasak).



Inilah rupa timun betik yang telah dikupas kulitnya, dan dipotong-potong mengikut saiz kegemaran masing-masing. Isi timun betik yang cukup matang (masak) agak lembut - sesuai dibuat juadah untuk berbuka puasa.



Pilih beberapa ketul isi timun betik yang telah dipotong tadi ke dalam mangkok yang sesuai.



Masukkan santan kelapa agak berpatutan dengan isi timun betik tadi.



Selepas itu, campurkan gula enau (gula melaka) ke dalam adunan, hah.... siap untuk dinikmati. Sesetengah penggemar timun betik menyejukkan dahulu isi timun betik yang telah dipotong ke dalam freezer, sebelum dihidangkan.



Cukup menyelerakan.

©Idristalu@2009

Jumaat, 21 Ogos 2009

What people said about me


Courtesy of OUM Perak Online Community

Mencerap Anak Bulan Ramadhan - Baitul Hilal Pantai Pasir Panjang

By Idris Talu

Pada petang hari Khamis 20 Ogos 2009, penulis dan isteri bersama seorang cucu, Idham pergi ke Baitul Hilal di Pantai Pasir Panjang di daerah Manjung, Perak untuk melihat acara pencerapan anak bulan Ramadhan di situ.

Tiba di sana, pengunjung sudah ramai. Penulis puas mencari tempat untuk meletak kereta.

Penulis ingin berkongsi dengan pengunjung blog ini, pemandangan Baitul Hilal ini secara keseluruhannya.

Gambar di bawah menunjukkan bahagian belakang bangunan ini. Penulis katakan begitu, kerana bahagian anjung tempat imam itu dipanggil bahagian depan. Orang tidak masuk ke surau atau masjid melalui tempat imam.



Masih di bahagian belakang.




Dan ini pula bahagian depan, tempat imam bersembahyang.

Dah ramai yang datang.

Baitul Hilal lengkap dengan "menara pandang" (observation tower). Cukup lengkap prasarananya.


Kompleks Baitul Hilal.





Menara pandang.





©IdrisTalu@2009

Mencerap Anak Bulan - Pengunjung Baitul Hilal

By Idris Talu

Pengunjung-pengunjung yang datang ke ke Baitul Hilal di Pantai Pasir Panjang di daerah Manjung ini cukup ramai.

Penulis hanya mampu memaparkan foto-foto sebahagian dari para pengunjung tersebut.























©IdrisTalu@2009

Mencerap Anak Bulan - Kenderaan Pengunjung

By Idris Talu

Foto-foto yang penulis paparkan merupakan sebahagian dari kenderaan yang digunakan pengunjung-pengunjung untuk mencerap anak bulan di Pantai Pasir Panjang pada petang Khamis 20 Ogos 2009 yang lepas.

Masih banyak kenderaan di bahagian depan kompleks Baitul Hilal ini yang tidak sempat penulis rakamkan. Begitu juga kenderaan di sisi kiri kompleks.













©IdrisTalu@2009

Mencerap Anak Bulan - Taklimat Pencerapan dan Kuliah Agama

By Idris Talu

Pengunjung bukan datang untuk tujuan pencerapan sahaja, malah dihidangkan dengan majlis taklimat tentang pencerapan, tentang puasa Ramadhan dan kuliah agama yang berkaitan dengannya.

Taklimat dan kuliah disampaikan oleh tokoh-tokoh agama yang berkaliber dari pusat pengajian tinggi dan juga Pejabat Ugama Islam Perak.

Jika dahulu taklimat dan kuliah disampaikan di bawah pokok sahaja (sila lihat posting penulis terdahulu), kini ianya dijalankan di dalam khemah yang cantik siap dengan kipas anginnya.


Khemah taklimat dan kuliah dilihat dari jalan di luar pagar.



©IdrisTalu@2009

CLICK NOW

Tajuk Kegemaran